Judul Buku | : | Pergolakan Politik Timur Tengah |
Pengarang | : | Mohammad Shoelhi, Hery Sucipto dan Ma'mun Burod Al-Barbasy |
Ukuran | : | 14 x 21 cm dan 220 hal |
Harga SC | : | Rp 69,900 |
Belum lama ini kita menyaksikan sebuah 'drama' pergolakan
revolusioner yang berbasis kekuatan rakya berlangsung demikian dahsyat,
bak gelombang air bah yang tak tertahankan, menyapu apa saja yang
dilaluinya. Rakyat di negara-negara Arab di Timur Tengah yang selama ini
tampak hanya berpangku tangan, tak berdaya dan dimarjinalkan, di luar
dugaan, tiba-tiba memamerkan kekuatan sejatinya. Unjuk kekuatan rakya
yang dikenal dengan Arab Spring ini akhirnya berhasil menurunkan
penguasa otoriter.
Presiden Tuniasia Zein el Abidin ben Ali terjungkal dan terusir dari negaranya. Presiden Mesir Hosni Muhbarak meletakkan jabatannya. Bother Leader Muammar Khadafy dari Libya tewas ditembak rakyatnya yang memberontak dan berkolaborasi dengan NATO. Presiden Abdullah saleh dari Yaman bersedia mundur. Presiden Bashar al-Assad dari Suriah terdesak hingga bersedia menrima tuntutan reformasi. Raja bahrain Hamad ibn Isa al-Khalifah bersedia menreima tuntutan reformasi, begitu juga Raja Abdullah II dari Yordania, dan Presiden Al-Jazair Abdul Aziz Bouteflika. Rja Muhammad VI dari Maroko bersedia mengamandemen konstitusi negaranya dan mengurangi kekuasaannya.
Selain membidik pergolakan serta masa depan demokrasi di kawsan Timur Tengah dan Arab, buku yang merupakan hasil riset ini juga membahas sejauhmana perna Amirka dan israel dalam babak revolusi rakyat yang sama sekali tak pernah di prediksi sebelumnya itu.
Presiden Tuniasia Zein el Abidin ben Ali terjungkal dan terusir dari negaranya. Presiden Mesir Hosni Muhbarak meletakkan jabatannya. Bother Leader Muammar Khadafy dari Libya tewas ditembak rakyatnya yang memberontak dan berkolaborasi dengan NATO. Presiden Abdullah saleh dari Yaman bersedia mundur. Presiden Bashar al-Assad dari Suriah terdesak hingga bersedia menrima tuntutan reformasi. Raja bahrain Hamad ibn Isa al-Khalifah bersedia menreima tuntutan reformasi, begitu juga Raja Abdullah II dari Yordania, dan Presiden Al-Jazair Abdul Aziz Bouteflika. Rja Muhammad VI dari Maroko bersedia mengamandemen konstitusi negaranya dan mengurangi kekuasaannya.
Selain membidik pergolakan serta masa depan demokrasi di kawsan Timur Tengah dan Arab, buku yang merupakan hasil riset ini juga membahas sejauhmana perna Amirka dan israel dalam babak revolusi rakyat yang sama sekali tak pernah di prediksi sebelumnya itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar